Resources

6 Tips Bebas Dari Rantai Generasi Sandwich

November 01, 2022

Apakah Anda adalah bagian dari generasi sandwich? Baca lebih lanjut untuk mengetahui jelasnya.

Istilah generasi sandwich alias Sandwich Generation pertama kali dikenalkan di tahun 1981 oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody. Seperti sepotong sandwich di mana terdapat dua buah roti yang menghimpit sepotong daging, generasi sandwich adalah generasi usia produktif yang menanggung tiga generasi yaitu diri sendiri (ibarat dagingnya sebagai sumber pendapatan produktif), generasi di bawah yaitu anak-anak dan generasi sebelumnya yaitu orang tua, termasuk mertua, kakek nenek dan lain lain (ibarat dua potong roti di atas dan di bawahnya.)

Tim media Kompas melakukan survei tentang generasi sandwich di Indonesia dan mempublikasikan hasilnya pada 8 September 2022. Mereka menemukan bahwa di seluruh status sosial ekonomi, sebagian besar bisa menerima tanggung jawab atas orang tua mereka. Bahkan di status sosial ekonomi rendah, hanya 2,5% yang mengatakan terbebani, 71.2% mengaku tidak terbebani dan 26.3% biasa saja. “Membiayai hidup atau memberi bantuan kepada orangtua dianggap sebagai tindakan yang mulia. Seorang anak sudah sepantasnya membalas budi kepada orang tua dan keluarga mereka.”

Meski kondisi ini diterima oleh banyak kalangan, efek dari generasi sandwich ini tidak bisa dielakkan, khususnya secara finansial. Idealnya, sebuah keluarga perlu mengatur keuangannya dengan skema dan anggaran tertentu. Misalnya, 40?ri pendapatan dipakai untuk biaya hidup, 30% untuk pengeluaran konsumtif, 20% untuk investasi dan 10% untuk pengeluaran lain-lain. Namun, skema atau anggaran seperti ini belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Apalagi dengan bertambahnya beban sebagai generasi sandwich. Jangankan merencanakan dana pensiun, menabungpun terkadang tidak bisa. Mau investasi? Lupakan. Untuk rekreasi saja terkadang hanya bisa dilakukan sekali dalam satu tahun atau bahkan lebih lama. 

Di tengah-tengah kondisi seperti ini, di media sosial mereka terpapar dengan berbagai tindakan flexing alias pamer gaya hidup dari berbagai kalangan. Tentu di dalam hati merekapun ingin seperti itu, tapi tidak mampu. Apalagi saat mereka memikirkan tanggung jawab kepada orang tua dan anak sebagai generasi sandwich. Tantan Hermansah, sosiolog dari Universitas Islam Negeri Jakarta mengatakan di Kompas edisi 8 Sep 2022, “Saya khawatir akumulasi tekanan yang dialami oleh generasi sandwich bisa meledak menjadi frustasi sosial.”

Kondisi ini kemudian bisa mengarah menjadi sebuah lingkaran kebuntuan ekonomi. Jika generasi sandwich yang sekarang tidak merencanakan dengan lebih baik, saat mereka memasuki usia pensiun akan berbalik menjadi beban bagi anak-anaknya yang kemudian menjadi generasi sandwich berikutnya. Begitulah rantai generasi sandwich sambung-menyambung ke generasi berikutnya. 

Bagaimana Bebas dari Rantai Generasi Sandwich?

Di bawah ini ada 6 tips yang bisa Anda lakukan untuk membebaskan diri dari rantai generasi sandwich sehingga anak-anak Anda tidak mengalami hal yang sama:

  1. Diskusikan dan berbagi beban dengan saudara dan keluarga Anda.
    Masalah apapun jika didiskusikan dan dibagi bersama-sama akan menjadi lebih ringan. Cobalah libatkan saudara dan keluarga Anda yang lain (yang masih produktif) untuk mengatur bagaimana bersama-sama menanggung beban dari orang tua atau keluarga lain yang masih bergantung kepada Anda, di luar anak Anda tentunya.

  2. Buat anggaran keuangan keluarga yang seimbang dan pantau secara berkala.
    Jika Anda belum memiliki anggaran keuangan keluarga, cobalah memulai dengan anggaran dan pencatatan yang sederhana. Dari sini Anda perlu memantau secara berkala pengeluaran Anda dan akan bisa melihat cara-cara berhemat yang mungkin selama ini belum disadari.

  3. Cari ide dan cara untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
    Bisa jadi setelah membuat anggaran keuangan, Anda mendapati bahwa anggaran Anda sudah optimal. Pilihan lainnya adalah mencari sumber pendapatan sampingan yang bisa meningkatkan pendapatan keluarga. Sebagai catatan, jika Anda mengambil langkah ini, diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan Anda bagaimana mengatur keseimbangan keluarga Anda tetap terjaga.

  4. Persiapkan dana pensiun selain menabung secara rutin untuk keadaan darurat dan hal-hal lain.
    Semakin awal Anda mempersiapkan dana pensiun, semakin siap Anda menghidupi masa-masa pensiun Anda sehingga tidak membebani anak-anak Anda. Tidak perlu menunggu bisa menyisihkan jumlah yang besar. Mulailah dengan jumlah yang ada sebagai bagian dari anggaran keuangan Anda.

  5. Gunakan asuransi sebagai jaring pengaman dan daya ungkit keuangan.
    Asuransi kesehatan dan penyakit kritis akan melindungi keuangan Anda dari sakit yang mendadak. Asuransi jiwa bisa menjadi daya ungkit bagi keuangan anak-anak Anda.

  6. Cari bantuan dari seorang Certified Financial Planner (CFP®) dan Certified Money Coach (CMC®).
    Salah satu kesalahan besar yang dilakukan oleh banyak orang adalah merasa bahwa mengatur keuangan itu adalah hal yang sederhana, sehingga mereka tidak mencari bantuan dari profesional seperti seorang CFP® ataupun CMC®. Jika memang mengatur keuangan itu sederhana, seharusnya hanya sedikit orang yang bermasalah secara keuangan. Benar bukan?

Jika Anda merasa ini adalah diri Anda dan Anda ingin bebas dari rantai generasi sandwich, silahkan hubungi kami (Klik di sini) atau tinggalkan komentar di bawah ini.


Tidak ada komentar


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Name

Email

Website